Blogger Lampung Barat

Posts Tagged ‘danau ranau

Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR) Lampung Barat mendukung rencana Pemkab setempat memekarkan sebagian pekon (desa) di Kecamatan Sukau menjadi kecamatan Danau Ranau.

Ketua MPDR Lambar, Rusdi Effendi, mengatakan pemekaran lima pekon, yakni Pekon Lombok, Lombok Timur, Sukabanjar, Heni Arong, dan Ujung Rembun dari Kecamatan Sukau menjadi Kecamatan Danau Ranau merupakan kebutuhan untuk percepatan pembangunan dan memperpendek akses pusat pemerintah kecamatan khususnya untuk Pekon Heni Arong dan Ujung Rembun yang hanya bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua dan perahu motor.

Lima pekon calon Kecamatan Danau Ranau, kata dia, memiliki potensi yang cukup besar baik dari pertanian, perkebunan, perikanan, dan pariwisata. Apalagi seluruh pekon berada di sekitar Danau Ranau. “Langkah ini sangat tepat untuk percepatan pembangunan yang diharapkan dapat meningkatnya kesejahteraan masyarakat,” kata Rusdi, kemarin (24-2).

MPDR yang memiliki anggota dari seluruh pekon sekitar Danau Ranau, meminta Pemkab mempercepat proses pemekaran tersebut.

“Kami sangat berharap pemekaran ini segera terealisasi,” kata dia.

Sementara itu, Kasubag Tatapraja, Pemerintahan Umum, Sekretariat Pemkab Lambar, Intoni, mendampingi Kabag Pemeirntahan, Umum Amsir, mengatakan hasil kajian Tim Pemekaran Pemkab Lampung Barat menyatakan kecamatan-kecamatan yang diusulkan untuk dimekarkan laik untuk dimekarkan.

Kecamatan yang diusulkan tersebut, kata dia, pemekaran Kecamatan Sumber Jaya dipusatkan di Kebun Tebu; Kecamatan Way Tenong dipusatkan di Air Hitam. Seelain itu, Kecamatan Sekincau dipusatkan di Basungan, Kecamatan Belalau dipusatkan di Batu Kebayan, Kecamatan Suoh dipusatkan di Banjar Negeri, Kecamatan Sukau dipusatkan di Danau Ranau.

Kecamatan Pesisir Tengah dibagi menjadi tiga, yakni Way Krui dan Krui Selatan.

Saat ini, pihaknya sudah mengajukan usulan pemekaran kecamatan itu untuk mendapat rekomondasi dari Gubernur, dan mudah-mudahan semua kecamatan yang diusulkan untuk dimekarkan tersebut disetujui.

Setelah mendapat persetujuan dari Gubernur, kata dia, Pemkab Lampung Barat menindaklanjuti dengan mengajukan rancangan peraturan daerah (ranperda) ke DPRD Lambar.

“Mudah-mudahan rekomondasi Pak Gubernur segera turun sehingga segera ditindaklanjuti,” kata Intoni. n HEN/D-2

Sumber: Lampung Post

Danau ranau adalah obyek wisata yang terletak di perbatasan Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten OKU. Tempat wisata yang terletak di wilayah Lampung Barat terletak di Desa Lombok yang telah dibangun daerah wisata terpadu yang meliputi Hotel, tempat penangkaran rusa dan lain – lain. Selain itu rumah penduduk juga akan dijadikan tempat menginap untuk para wisatawan, sehingga mereka bisa merasakan tinggal di rumah panggung.

Menurut penduduk yang ada disekitar danau terdapat banyak kisah yang menceritakan asal usul terjadinya danau ranau, dan salah satunya yang saya tulis dibawah ini.

Asal Danau Ranau
Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu tumbuh pohon ara yang sangat besar berwarna hitam.
Konon saat itu, masyarakat yang berasal dari berbagai daerah seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, Komering, berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut. Masyarakat dari berbagai daerah itu pun berkumpul dengan membawa makanan seperti sagon, kerak nasi, dan makanan lainnya.
Persis saat akan menebang pohon, masyarakat kebingungan bagaimana cara memotongnya. Ketika itulah muncul burung di puncak pohon yang mengatakan untuk memotong pohon, mereka harus membuat alat yang bentuknya mirip kaki manusia. Mereka pun akhirnya membuat alat menggunakan batu yang gagangnya dari kayu. Akhirnya pohon ara pun tumbang. Lalu dari lubang bekas pohon ara itu keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara pohon ara yang melintang kemudian membentuk Gunung Seminung. Karena marah, jin yang tinggal di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Sedangkan serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit yang ada di sekeliling danau
Di samping itu, masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, berseberangan dengan Lombok, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.
Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup yang diyakini sebagai makamnya Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makamnya Si Mata Empat. Si Pahit Lidah yang oleh masyarakat disebut sebagai Serunting Sakti berasal dari Kerajaan Majapahit. Karena dianggap nakal, oleh raja, Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini diusir ke Sumatera. Akhirnya, dia pun menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung.
Si Pahit Lidah memiliki kelebihan, yakni setiap apa yang dikemukakannya terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat yang berasal dari India mencarinya hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku. Di Way Mengaku keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan.
Salah satu yang dilakukan adalah memakan buah yang bentuknya seperti aren. Ternyata buah aren itu pantangan bagi Si Pahit Lidah. Karena makan akhirnya dia tewas. Sementara itu, Si Mata Empat yang mendengar kabar lidah Si Pahit Lidah beracun tidak percaya dan mencoba menjilatnya. Akhirnya, dia pun tewas. Peristiwanya, menurut penuturan H Haskia, terjadi di Pulau Pisang.
Lalu, kuburannya ditemukan di pinggir Danau Ranau.